Kegelisahan karena kebutuhan rumah tangga yang terasa kurang adalah hal yang sangat manusiawi. Ketika pemasukan terasa sempit sementara kebutuhan terus berjalan, hati mudah resah, pikiran tidak tenang, dan lisan pun sering terjatuh pada keluhan. Kondisi ini bisa menjadi ujian keimanan: apakah kita tetap bersandar kepada Allah atau justru tenggelam dalam kecemasan yang berlebihan.
Rasa gelisah terhadap rezeki terkadang memang berkaitan dengan kuatnya ketergantungan hati pada dunia. Bukan berarti setiap orang yang merasa sempit rezekinya pasti terkena “penyakit cinta dunia”, namun ketika hati lebih dipenuhi ketakutan kehilangan harta daripada takut berkurangnya iman, itu tanda perlu muhasabah. Dunia boleh di tangan, tetapi jangan sampai memenuhi hati. Islam tidak melarang kita memikirkan kebutuhan hidup. Bahkan mencari nafkah adalah ibadah. Namun yang tercela adalah ketika kekurangan materi membuat seseorang putus asa, terus mengeluh, dan suudzan kepada Allah. Di sinilah pentingnya pengobatan hati agar kegelisahan berubah menjadi ketenangan dan tawakal.
Tulisan sederhana ini mencoba memaparkan beberapa solusi agar hati merasa tenang dan puas dengan rejeki yang telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wata’la. Semoga Allah menjadikan tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin dan pahala yang besar bagi penulisnya.
Mengatur Pengeluaran, Qonaah dan tidak boros.
Salah satu sebab kegelisahan adalah ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. Islam mengajarkan hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Banyak keresahan muncul bukan karena rezeki benar-benar tidak ada, tetapi karena gaya hidup lebih besar daripada kemampuan. Mengatur pengeluaran adalah langkah nyata yang sangat membantu menenangkan hati.
Mari kita periksa kembali apakah selama ini sudah benar-benar mengatur pengeluaran kita dengan hanya membelanjakan harta kita untuk kebutuhan ataukah kita masih menggunakannya untuk memenuhi keinginan dan hawa nafsu kita sehingga kita berlaku boros dalam menggunakan harta.
Membuat skala prioritas kebutuhan rumah tangga adalah bentuk ikhtiar yang diajarkan syariat. Dahulukan kebutuhan pokok daripada keinginan. Kurangi hal yang tidak mendesak. Dengan demikian kita akan terhindar dari sikap boros dan berlebihan. Allah berfirman:
یَـٰبَنِیۤ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِینَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدࣲ وَكُلُوا۟ وَٱشۡرَبُوا۟ وَلَا تُسۡرِفُوۤا۟ۚ إِنَّهُۥ لَا یُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِینَ
“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaian kamu yang bagus setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-A’raf: 31)
Saat seseorang merasa cukup dengan yang ada, hatinya lebih ringan. Rasa cukup (qana’ah) adalah kekayaan sejati yang membuat jiwa tidak mudah guncang oleh kondisi ekonomi. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah mengaruniakannya sifat qana’ah (merasa puas) dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim, no. 1054).
Dengan manajemen pengeluaran yang baik, seseorang belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi sekarang. Ia pun akan merasa puas dengan yang sudah dimiliki. Ketenangan lahir bukan hanya dari banyaknya harta, tapi dari kemampuan mengelola dan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu berkata kepada putranya, Umar: “Wahai anakku, jika engkau mencari kecukupan, maka carilah ia dengan sifat qana’ah (merasa cukup). Jika engkau tidak memiliki qana’ah, maka harta sebanyak apa pun tidak akan pernah membuatmu cukup.” (Hayatus Salaf Baina al-Qouli wal Amal, Maktabah Syamilah, hlm 457)
Mengingat Banyaknya Nikmat Allah dan Mensyukurinya.
Kegelisahan sering muncul karena fokus kita hanya pada apa yang belum ada, bukan pada nikmat yang sudah melimpah. Padahal nikmat Allah bukan hanya uang. Iman, kesehatan, keluarga, udara yang dihirup, kemampuan beribadah semua itu adalah rezeki besar yang sering terlupakan. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi, no. 2346; Ibnu Majah, no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib).
Ketika seseorang melatih diri untuk menghitung nikmat, keluhan perlahan berubah menjadi syukur. Hati yang bersyukur lebih tenang daripada hati yang terus membandingkan diri dengan orang lain. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Muslim, no. 2963).
Mengingat nikmat Allah dan mensyukurinya juga menumbuhkan keyakinan bahwa Dzat yang telah memberi begitu banyak, tidak mungkin menelantarkan hamba-Nya. Allah subhanahu wata’la berfirman:
وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَىِٕن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِیدَنَّكُمۡۖ وَلَىِٕن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِی لَشَدِیدࣱ
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”( QS Ibrahim: 7)
Ibnu Qayyim berkata: “Allah menjadikan syukur sebagai sebab bertambahnya karunia-Nya, sebagai penjaga dan pemelihara nikmat-Nya, serta sebagai jalan yang menyampaikan seorang hamba yang bersyukur kepada Dzat yang ia syukuri. Bahkan Allah menjadikan orang yang bersyukur itu sendiri sebagai pihak yang disyukuri.” (Al-Barokatu fii ar-Rizki wa al-Asbab al-Jalibah Lahaa fii Dhoui al-Kitab wa as-Sunnah, Maktabah Syamila, hlm. 293)
Mengganti Keluh Kesah dengan Berdoa kepada Allah
Mengeluh kepada manusia seringkali tidak menyelesaikan masalah, bahkan bisa menambah sempitnya hati. Namun mengadu kepada Allah adalah ibadah. Setiap kegelisahan tentang rezeki seharusnya menjadi pintu doa, bukan pintu keluhan. Lisan yang tadinya dipakai mengeluh, diganti dengan istighfar, dzikir, dan permohonan rezeki yang halal dan berkah. Allah berfirman tentang Nabi Ya’qub alaihissalam:
قَالَ إِنَّمَاۤ أَشۡكُوا۟ بَثِّی وَحُزۡنِیۤ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ
Dia (Yakub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. Yusuf: 86)
Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam berdo’a :
اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk (dalam ilmu dan amal), ketakwaan, sifat ‘afaf (menjaga diri dari hal yang haram), dan sifat ghina’ (hati yang selalu merasa cukup atau qana’ah).” (HR. Muslim, no. 2721, dari ).
Nabi shalallahu alaihi wasallam juga mengajarkan do’a:
اللَّهُمَّ اكْفِني بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu).” (HR. Tirmidzi, 3563)
Kesimpulan
Pada akhirnya, ketenangan bukan berasal dari besarnya harta, tetapi dari kuatnya hubungan dengan Allah. Saat seseorang berikhtiar mengatur pengeluaran, qonaah, tidak boros, mengingat nikmat Allah dan mensyukurinya, serta mengganti keluhan dengan doa, hatinya akan lebih lapang. Ia sadar bahwa rezeki sudah ditakar, tugasnya hanyalah berusaha dan bertawakal. Dari sinilah kegelisahan berubah menjadi ketenangan.

Beri Komentar