Info Pondok
Sunday, 25 Feb 2024
  • Pondok pesantren ibnu abbas sragen yang beralamatkan di Beku Kliwonan Masaran Sragen Jawa Tengah

Tidak Boleh Berdo’a kepada Mayit (Orang-orang yang Sudah Mati)

Diterbitkan : - Kategori : Tak Berkategori

FATWA LAJNAH DAIMAH LILBUHUTS AL-ILMIYAH WALIFTA’

JILID 1 TENTANG AQIDAH

Disusun oleh: ASY-SYAIKH AHMAD BIN ABDURRAZAQ AD-DUWAISY

لا يجوز دعاء الموتى

فتوى رقم (9582):

س: فيه هجوم شديد على السلفيين, وأنهم منكرون ولا يحبون الأولياء, ومن ضمن الأدلة التي استدلوا بها على أن الاستغاثة بالميت جائزة: حديث الرجل الأعمى الذي استغاث بالنبي صلى الله عليه وسلم بعد موته, وقد علمت أن هذا الحديث صحيح مما يسبب لبعض الناس حيرة شديدة فأرجو إفادتنا في هذا الأمر المهم؟

ج: وبعد دراسة اللجنة للاستفتاء أجابت بأن حديث الأعمى أخرجه الإمام الترمذي بسنده عن عثمان بن حنيف رضي الله عنه: أن رجلا ضرير البصر أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: ادع الله أن يعافيني, قال: “إن شئت دعوت, وإن شئت صبرت فهو خير لك” قال: فادعه, فأمره أن يتوضأ فيحسن وضوءه ويدعو بهذا الدعاء: “اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبيك محمد نبي الرحمة, إني توجهت بك إلى ربي في حاجتي هذه لتقضى لي اللهم فشفعه في وقال الترمذي: حديث حسن صحيح غريب لا نعرفه إلا من هذا الوجه من حديث أبي جعفر الخطمي.

والحديث على تقدير صحته ليس فيه دعاء الأعمى للنبي صلى الله عليه وسلم, وإنما فيه دعاء الله تعالى بتوجهه بالنبي صلى الله عليه وسلم في حياته, كما دعا الله تعالى أن يشفع فيه النبي صلى الله عليه وسلم لتقضى حاجته.

وليس في الحديث ما يدل على جواز دعاء الموتى, وقد تكلم أبو العباس ابن تيمية رحمه الله في هذا الحديث كلاما طيبا وأوضح معناه في كتابه [قاعدة جليلة في التوسل والوسيلة] فراجعها لتستفيد أكثر.

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد, وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضونائب رئيس اللجنةالرئيس
عبد الله بن غديانعبد الرزاق عفيفيعبد العزيز بن عبد الله بن باز


Tidak Boleh Berdo’a kepada Mayit (Orang-orang yang Sudah Mati)   

Fatwa nomor 9582:

Pertanyaan: Ada tikaman keras bagi kalangan salafiyyin yaitu mereka (dituduh) mengingkari dan tidak mencintai para Wali. (orang-orang yang menuduh) berdalil akan bolehnya istighatsah kepada mayit berdasarkan hadits laki-laki buta yang beristighatsah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sepeninggal beliau, dan aku mengetahui bahwa hadits ini shahih sehingga hal ini menyebabkan sebagian manusia sangat kebingungan, maka aku mohon pencerahan dalam perkara penting ini.

Jawab: Setelah Komite tetap untuk memberi fatwa mengkaji, maka komite fatwa memberi jawaban bahwa hadits tentang orang buta yang dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dengan sanadnya dari Utsman bin Hanif radhiyallahu ‘anhu: bahwa ada seorang laki-laki buta datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: “Berdo’alah kepada Allah agar menyembuhkanku” Nabi Bersabda: ‘Jika engkau mau aku do’akan tetapi jika engkau besabar maka itu lebih baik bagimu” laki-laki itu berkata: “Berdo’alah kepada-Nya” kemudian Rasulullah menyuruhnya berwudhu dan memperbagus wudhunya lalu membaca do’a: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon dan menghadap kepada-Mu dengan perantaraan Nabi-Mu Nabi Muhammad Nabi pembawa rahmat, sesungguhnya aku menghadap dengan perantaraanmu kepada Tuhanku dalam keperluanku ini agar dikabulkan. Ya Allah, berikanlah syafaatnya untukku” Tirmidzi berkata: hadits hasan shahih gharib kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini, yaitu dari jalur Abi Ja’far Al-Khathami.

Hadits yang dinilai shahih di atas tidaklah menunjukkan bahwa orang buta tersebut berdo’a kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi dalam hadits tersebut menunjukkan do’a kepada Allah dengan perantaraan Nabi Muhammad semasa hidupnya, demikian pula saat ia berdo’a kepada Allah agar Nabi Muhammad memberinya syafaat, supaya kebutuhannya dikabulkan (Ia tetap berdo’a kepada Allah, bukan kepada Nabi).   

Tidaklah dalam hadits menunjukkan bolehnya berdo’a kepada mayit, sungguh Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah telah berbicara tentang hadits ini dengan perkataan yang sangat baik dalam menjelaskan maknanya dalam kitabnya (qaidah jalilah fittawassul walwasilah), silahkan merujuk kepadanya untuk mengambil faidah lebih banyak.

Semoga Allah memberi taufiq dan semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Komite Tetap Riset Ilmiyah dan Fatwa

Ketua              : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz                                                                            

Wakil ketua     : Abdurrazaq ‘Afifi

Anggota          : Abdullah bin Ghudayan

(Sumber : Fatwa lajnah daimah lilbuhuts al-ilmiyah walifta’ tentang aqidah yang disusun oleh Syaikh Ahmad bin Abdurrazaq Ad-Duwaisy, dari situs www.dorar.net atau mauqi’u ad-durar as-saniyah).

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.