Info Pondok
Saturday, 04 Feb 2023
  • Pondok pesantren ibnu abbas sragen yang beralamatkan di Beku Kliwonan Masaran Sragen Jawa Tengah

Hukum Isti’anah (Meminta Pertolongan)

Diterbitkan : - Kategori : Tak Berkategori

FATWA LAJNAH DAIMAH LILBUHUTS AL-ILMIYAH WALIFTA’

JILID 1 TENTANG AQIDAH

Disusun oleh: ASY-SYAIKH AHMAD BIN ABDURRAZAQ AD-DUWAISY

الاستعانة

فتوى رقم (433):

س: ما حكم المناذير،وهو دعاء الجن والشياطين على شخص ما ليعملا به عملا مكروها, كأن يقال: خذوه اذهبوا به, انفروا به بقصد أو بغير قصد, وما حكم من دعا بهذا القول, حيث سمعت قول أحدهم: أنه من دعا الجن لم تقبل له صلاة ولا صيام ولا يقبر في مقابر المسلمين،ولا تتبع جنازته ولا يصلى عليه إذا مات؟

ج: الاستعانة بالجن واللجوء إليهم في قضاء الحاجات من الإضرار بأحد أو نفعه – شرك في العبادة; لأنه نوع من الاستمتاع بالجني بإجابته سؤاله،وقضائه حوائجه في نظير استمتاع الجني بتعظيم الإنسي له ولجوئه إليه واستعانته به في تحقيق رغبته, قال الله تعالى: ويوم يحشرهم جميعا يا معشر الجن قد استكثرتم من الإنس وقال أولياؤهم من الإنس ربنا استمتع بعضنا ببعض وبلغنا أجلنا الذي أجلت لنا قال النار مثواكم خالدين فيها إلا ما شاء الله إن ربك حكيم عليم وكذلك نولي بعض الظالمين بعضا بما كانوا يكسبون وقال تعالى: وأنه كان رجال من الإنس يعوذون برجال من الجن فزادوهم رهقا فاستعانة الإنسي بالجني في إنزال ضرر بغيره،واستعاذته به في حفظه من شر من يخاف شره كله شرك.

ومن كان هذا شأنه فلا صلاة له ولا صيام; لقوله تعالى: لئن أشركت ليحبطن عملك ولتكونن من الخاسرين ومن عرف عنه ذلك لا يصلى عليه إذا مات, ولا تتبع جنازته, ولا يدفن في مقابر المسلمين.

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد, وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضوعضونائب رئيس اللجنة
عبد الله بن منيععبد الله بن غديانعبد الرزاق عفيفي

 


Hukum Isti’anah (Meminta Pertolongan)     

Fatwa nomor 433:

Pertanyaan: Apa hukum manadzir yaitu memohon kepada jin atau syaithan agar melakukan perbuatan tidak baik kepada seseorang, seperti mengatakan: pegang dan lenyapkan orang itu, bawalah pergi, dengan sengaja atau tanpa sengaja. Apa hukum berdo’a/memohon dengan perkataan ini, karena saya mendengar ada yang mengatakan: barangsiapa berdo’a kepada jin maka tidak diterima shalat dan puasanya, tidak dikuburkan di pekuburan kaum muslimin dan tidak diantar jenazahnya serta tidak dishalatkan jika meninggal?

Jawab: Meminta bantuan dan berlindung kepada jin dalam rangka memenuhi hajat untuk menyelamatkan dari kejahatan seseorang atau mendapatkan manfaatnya merupakan syirik dalam ibadah; karena hal itu merupakan bentuk kesenangan dari jin dengan dikabulkan permohonannya dan dipenuhi kebutuhannya. Demikian juga bagi jin merupakan kesenangan baginya karena manusia mengagungkan dan menggantungkan diri kepadanya serta meminta pertolongan kepada jin dalam mewujudkan keinginannya. Allah ta’ala berfirman: Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.” Allah berfirman: “Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).” Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.

Allah juga berfirman: Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.

Maka permintaan tolong manusia kepada jin agar mencelakakan manusia lainnya dan berlindung kepadanya (jin) agar menjaga dirinya dari keburukan seseorang yang ia takuti, semuanya merupakan kesyirikan.

Jika demikian keadaannya maka tidak faidah shalat dan puasanya; berdasarkan firman-Nya: Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.

Barangsiapa diketahui seperti itu keadaannya maka ia tidak dishalatkan jika meninggal, tidak diantar jenazahnya, dan tidak dikubur di pekuburan kaum muslimin.

Semoga Allah memberi taufiq dan semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Komite Tetap Riset Ilmiyah dan Fatwa

Ketua              : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz                                                                            

Wakil ketua     : Abdurrazaq ‘Afifi

Anggota          : Abdullah bin Ghudayan

(Sumber : Fatwa lajnah daimah lilbuhuts al-ilmiyah walifta’ tentang aqidah yang disusun oleh Syaikh Ahmad bin Abdurrazaq Ad-Duwaisy, dari situs www.dorar.net atau mauqi’u ad-durar as-saniyah).

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.