Info Pondok
Friday, 03 Feb 2023
  • Pondok pesantren ibnu abbas sragen yang beralamatkan di Beku Kliwonan Masaran Sragen Jawa Tengah

Apa Pendapat Anda Sekalian tentang Pelaku Bid’ah Syirik yang Beristighatsah kepada Para Wali?

Diterbitkan : - Kategori : Tak Berkategori

FATWA LAJNAH DAIMAH LILBUHUTS AL-ILMIYAH WALIFTA’

JILID 1 TENTANG AQIDAH

Disusun oleh: ASY-SYAIKH AHMAD BIN ABDURRAZAQ AD-DUWAISY

ما قولكم في مبتدع بدعا شركية يستغيث بالأولياء

السؤال الأول من الفتوى رقم (2017):

س 1: ما قولكم في مبتدع بدعا شركية يستغيث بالأولياء ويصلي في أضرحتهم راجيا أن يمدوه ببركتهم, وتزوج بامرأة ثيب بعد أن طلقها زوجها الأخير, وكان يجامعها مرة بعد أخرى خفية حتى حملت منه فبادر بكتابة العقد عليها بعدما ظهر حملها, وتم هذا الزواج على غير هدى من الله, ووضعت طفلة عمرها سنتان الآن ثم تاب إلى الله من البدع والتزم سنة نبينا محمد صلى الله عليه وسلم, وقرأ كتاب [فتح المجيد شرح كتاب التوحيد] وغيره من كتب أهل السنة وتاب من الزنى،وفعل المنكرات, وزوجته حامل الآن, ويسأل: ماذا يفعل هل عليه كفارة من أجل الزنا, وماذا يفعل مع أقاربه الذين لا يزالون على بدعهم الشركية أفتوني؟

ج 1: أولا: لا شك أن الشرك أكبر الكبائر, وأن البدع المحدثة في الدين من أقبح الجرائم, وأن الزنى من الفواحش وكبائر الذنوب, وأنه يجب على من ابتلي بشيء من ذلك أن يتخلص منه ويجتنبه, وأن يستغفر الله, ويتوب إليه مما فرط فيه من الجرائم عسى أن يتوب الله عليه, وإذا كان قد تاب إلى الله واستغفره فنرجو الله أن يتقبل توبته،ويغفر ذنبه, وأن يحفظه في مستقبل أمره, وأن يبدل سيئاته حسنات, وعليه أن يكثر الندم والتوبة والاستغفار والأعمال الصالحات, فإن الحسنات يذهبن السيئات, وألا يتبع خطوات الشيطان،فإنه يأمر بالفحشاء والمنكر, قال الله تعالى: والذين لا يدعون مع الله إلها آخر ولا يقتلون النفس التي حرم الله إلا بالحق ولا يزنون ومن يفعل ذلك يلق أثاما يضاعف له العذاب يوم القيامة ويخلد فيه مهانا إلا من تاب وآمن وعمل عملا صالحا فأولئك يبدل الله سيئاتهم حسنات وكان الله غفورا رحيما ومن تاب وعمل صالحا فإنه يتوب إلى الله متابا وقال تعالى: يا أيها الذين آمنوا لا تتبعوا خطوات الشيطان ومن يتبع خطوات الشيطان فإنه يأمر بالفحشاء والمنكر وعليه أن يحمد الله ويشكره على التوفيق إلى الرشد بعد الغي, والهدى بعد الضلال.

ثانيا: عليه أن يجتهد مع عشيرته وسائر قومه بدعوتهم إلى التوحيد الخالص ونبذ البدع والخرافات وترغيبهم في التمسك بالكتاب والسنة والعمل بهما عسى أن تجدي فيهم الدعوة فيستجيبوا لها ويتوبوا إلى الله من شركهم وسائر بدعهم, ويكونوا قوة معه في نصر الدعوة إلى الحق, والله المستعان.

ثالثا: إذا كان الواقع من حاله الأولى ما ذكر من سلوكه طريق الجاهلية الأولى قبل بعثة النبي صلى الله عليه وسلم وارتكابه مثل ما ارتكبوا من الشرك الأكبر, وأنه عقد الزواج على المرأة المذكورة أيام جاهليته اعتبرت توبته من ذلك رجوعا من الشرك والفجور وبدء حياة إسلامية جديدة فيقر على عقد النكاح الذي جرى منه على هذه المرأة أيام جاهليتهما إن كانت مثله حين عقد عليها ثم تابت مما كان منها من الشرك والفاحشة, فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقر من أسلم من الكافرين على ما مضى من عقود زواجهم في الجاهلية ولا يسألهم عن تفاصيل ما جرى عليه العقد ولا يجدد لهم عقد زواج, ويعتبر ما كان بينهم من النسل سابقا أولادا لهم فليس عليهما أكثر من أن يتبعا السيئة الحسنة ويكثرا من فعل الخيرات وتجنب ما حرم الله من المنكرات.

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد, وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضوعضونائب رئيس اللجنةالرئيس
عبد الله بن قعودعبد الله بن غديانعبد الرزاق عفيفيعبد العزيز بن عبد الله بن باز


Apa Pendapat Anda Sekalian tentang Pelaku Bid’ah Syirik yang Beristighatsah kepada Para Wali?     

Pertanyaan pertama dari fatwa nomor 2017:

Pertanyaan: Apa pendapat anda sekalian tentang pelaku bid’ah syirik yang beristighatsah kepada para wali dan shalat di makam mereka berharap para wali memberinya barakah. Ia menikah dengan seorang janda setelah dicerai oleh suaminya yang terakhir, sebelum (menikahinya) ia menjalin hubungan gelap dengan wanita tersebut dan beberapa kali zina hingga si wanita hamil maka segeralah dilangsungkan akad nikah setelah nampak kehamilan tersebut dan sempurnalah pernikahan bukan di atas petunjuk dari Allah. Wanita itu melahirkan seorang puteri dan sekarang berumur dua tahun. Kemudian laki-laki tersebut bertaubat kepada Allah dari perbuatan bid’ah dan berpegang teguh dengan sunah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia membaca kitab Fathulmajid Syarh Kitabittauhid dan kitab-kitab sunah lainnya serta bertaubat dari perbuatan zina dan perkara-perkara yang mungkar. Sekarang istrinya hamil lagi, ia bertanya: “apa yang harus ia lakukan? Apakah ia wajib kaffarah baginya disebabkan zina yang ia lakukan? Apa yang harus ia lakukan terhadap saudara-saudaranya yang masih melakukan kebid’ahan yang sampai pada taraf kesyirikan? berilah fatwa kepadaku. 

Jawab: Pertama: tidak dipungkiri bahwa syirik adalah dosa paling besar, bid’ah berupa perkara baru dalam agama adalah kejahatan paling buruk, dan zina termasuk fahisyah (perbuatan keji) yang merupakan dosa besar. Wajib bagi siapa yang diuji dengan sesuatu dari perkara-perkara tersebut untuk berlepas diri dan menjauhinya, memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dari kejahatan yang ia pernah lakukan dengan harapan Allah menerima taubatnya. Jika ia telah bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya maka kami berharap kepada Allah agar menerima taubatnya, mengampuni dosanya, menjaganya di masa yang akan datang dan mengganti kesalahannya dengan kebaikan. Wajib baginya memperbanyak penyesalan, taubat, istighfar, dan amal shalih karena sesungguhnya kebaikan akan menghapus (dosa) keburukan. Dan hendanya ia tidak mengikuti langkah-langkah syaithan karena sesungguhnya syaithan memerintahkan berbuat fahisyah (keji) dan mungkar. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.” Dan wajib baginya memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya atas taufiq kepada jalan yang lurus yang sebelumnya meniti jalan yang bengkok dan memberi petunjuk yang sebelumya dalam kesesatan.   

Yang kedua: wajib baginya berjuang keras mengajak keluarga dan seluruh kaumnya kepada tauhid yang murni dan menghilangkan bid’ah dan khurafat serta memotivasi mereka untuk berpegang teguh dengan kitabullah dan as-sunnah dan mengamalkan keduanya, semoga dakwah bermanfaat bagi mereka sehingga mereka menyambut dakwah tersebut dan bertaubat kepada Allah dari seluruh perbuatan syirik dan bid’ah, dan menjadilah mereka kekuatan bersamanya dalam menyebarkan dakwah kepada kebenaran, sesungguhnya Allah Maha pemberi pertolongan.

Ketiga: Jika dahulu ia menempuh jalan seperti jalan jahiliyah sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan melakukan dosa besar berupa syirik serta melangsungkan akad nikah dengan wanita yang tadi disebutkan pada masa jahiliyah maka telah benar taubatnya dengan berlepas diri dari syirik dan zina kemudian memulai hidup baru yang islami dan perkawinan dengan wanita itu pada masa jahiliyah tetap sah jika si wanita kondisinya sama dengannya ketika dilangsungkan pernikahan kemudian ia (si wanita) bertaubat dari kesyirikan dan zina, karena sesunggguhnya dahulu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan (sahnya) orang yang masuk Islam dari kalangan orang-orang kafir atas apa yang telah lalu dari akad nikah mereka pada masa jahiliyah dan tidak menayakan rincian akadnya serta tidak meminta untuk memperbaharui akad nikah tersebut, dan nasab anak-anak mereka terdahulu diakui (sebagai anak mereka). Oleh karenanya, hendaknya keduanya memperbanyak mengiringi kesalahan dengan kebaikan, memperbanyak melakukan kebaikan dan menjauhi apa yang Allah larang dari perkara-perkara yang mungkar.

Semoga Allah memberi taufiq dan semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Komite Tetap Riset Ilmiyah dan Fatwa

Ketua              : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz                                                                            

Wakil ketua     : Abdurrazaq ‘Afifi

Anggota          : Abdullah bin Ghudayan

Anggota          : Abdullah bin Qu’ud                                    

(Sumber : Fatwa lajnah daimah lilbuhuts al-ilmiyah walifta’ tentang aqidah yang disusun oleh Syaikh Ahmad bin Abdurrazaq Ad-Duwaisy, dari situs www.dorar.net atau mauqi’u ad-durar as-saniyah).

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.