Hukum Menyembelih Hewan untuk Keridhaan Musuh

Tak Berkategori

FATWA LAJNAH DAIMAH LILBUHUTS AL-ILMIYAH WALIFTA’

JILID 1 TENTANG AQIDAH

Disusun oleh: ASY-SYAIKH AHMAD BIN ABDURRAZAQ AD-DUWAISY

حكم الذبح لاسترضاء الخصوم

السؤال الثاني من الفتوى رقم (1984):

س 2: جرت عادة العرب على استرضاء بعضهم بعضا عند اللزوم فأحيانا يأتي المسترضي بشاة ولا يدخل من الباب إلا بعد ذبحها باسم الله، وأحيانا إذا أقبل المسترضي بالشاة (العقيرة) أخذها المقبل عليه، وقال: العقيرة حرام ورفعها لنفسه وذبح للمسترضي غيرها إكراما له، هل يجوز أكل لحم الشاتين أو أحدهما أو لا يجوز؟

ج 2: ذبح الإنسان شاة أو نحوها لغيره قد يكون القصد منه إكرامه بتقديم الذبيحة إليه طعاما يأكل منه هو ورفقاؤه ومن دعي إلى الأكل معهم مثلا فهذا جائز، بل حثت عليه الأحاديث الصحيحة ورغبت فيه، فقد ثبت من حديث أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه الحديث، وثبت من حديث أبي شريح الكعبي عنه صلى الله عليه وسلم أنه قال: من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه جائزته يوم وليلة، والضيافة ثلاثة أيام فما بعد ذلك فهو صدقة، ولا يحل له أن يأوي عنده حتى يحرجه.

وقد يكون القصد من الذبح مجرد إعظامه وتكريمه سواء قدمت الذبيحة بعد ذلك طعاما لأكله أم لا فذلك غير جائز، بل هو شرك يوجب اللعنة؛ لدخوله في عموم الذبح لغير الله. وقد ثبت عن علي رضي الله عنه أنه قال: حدثني رسول الله صلى الله عليه وسلم بأربع كلمات: لعن الله من ذبح لغير الله، لعن الله من لعن والديه، لعن الله من آوى محدثا، لعن الله من غير منار الأرض وعلى هذا لا يجوز الأكل من هذه الذبيحة ولو ذكر الذابح عليها اسم الله؛ لأن الأعمال بالنيات، وهذه قصد بها تقديم عقيرة تحية لغير الله إعظاما، ومجرد تكريم له لا لأكله منها.

أما إن قدمها حية فأخذها المسترضى وذبحها للضيوف أو ذبح غيرها للضيوف فيجوز الأكل من كل منهما؛ لكونها لم تذبح لإعظامه.

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد, وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضوعضونائب رئيس اللجنةالرئيس
عبد الله بن قعودعبد الله بن غديانعبد الرزاق عفيفيعبد العزيز بن عبد الله بن باز


Hukum Menyembelih Hewan untuk Keridhaan Musuh             

Pertanyaan kedua dari fatwa nomor 1984.

Pertanyaan: Ada kebiasaan yang berjalan pada masyarakat bangsa Arab, yaitu meminta keridhaan musuh ketika kondisi memang memaksa harus seperti itu. Terkadang pihak yang meminta keridhaan membawa seekor domba dan menyembelihnya dengan menyebut nama Allah sebelum masuk rumah (musuhnya). Terkadang pula tatkala pihak yang meminta keridhaan datang dengan membawa domba (disebut Al-‘Aqirah) maka pihak penerima mengambilnya lalu berkata: al-‘aqirah haram. Tetapi orang ini tetap menerimanya, hanya saja ia menyembelih hewan lain untuk menghormati pihak yang meminta keridhaan. Apakah diperbolehkan memakan daging kedua domba tersebut, atau salah satunya, ataukah tidak diperbolehkan?    

Jawab: seseorang yang menyembelih domba atau hewan sejenisnya untuk orang lain bisa jadi diniatkan untuk memuliakan orang tersebut dengan menyuguhkannya untuk dimakan oleh dirinya sendiri dan teman-temannya serta orang-orang lain yang diundang untuk makan bersamanya, seperti ini maka diperbolehkan. Bahkan dianjurkan dan disenangi sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya. Demikian hadits Abu Syuraih Al-Ka’by, dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tamunya dengan menjamunya sehari semalam, pemberian jamuan maksimal tiga hari, setelahnya merupakan sedekah, dan tamu tidak diperbolehkan tinggal menetap yang menyebabkan tuan rumah canggung kepadanya.

Terkadang niat dari menyembelih hewan hanya untuk mengagungkan dan memuliakan seseorang, sama saja setelah disembelih apakah dihidangkan untuk dimakan atau tidak; tidak masalah, maka yang seperti ini tidak boleh, bahkan merupakan perbuatan syirik yang dilaknat karena masuk dalam hukum keumuman menyembelih hewan untuk selain Allah. Diriwayatkan dari Ali radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku dengan empat perkara; Allah melaknat orang yang menyembelih hewan untuk selain Allah, allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya, Allah melaknat orang yang menyembunyikan mengayomi ahli bid’ah, Allah melaknat orang yang merubah patok tanah. Berdasarkan hal ini maka tidak boleh memakan sembelihan tersebut walaupun yang menyembelih menyebut nama Allah ketika menyembelihnya; karena perbuatan itu tergantung pada niatnya, sementara niat menyembelih hewan tadi untuk mempersembahkan aqirah (domba) sebagai penghormatan dan pengagungan untuk selain Allah, serta hanya sebagai pemuliaan baginya tidak dimaksudkan untuk dimakan dagingnya.

Namun, apabila domba tersebut diberikan dalam kondisi hidup lalu diambil dan disembelih oleh orang yang meminta keridhaan untuk dihidangkan dagingnya kepada para tamu ataupun ia menyembelih domba lain maka diperbolehkan memakan kedua sembelihan kedua domba tersebut; karena tidak disembelih untuk mengagungkannya.        

Semoga Allah memberi taufiq dan semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Komite Tetap Riset Ilmiyah dan Fatwa

Ketua              : Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz

Wakil ketua     : Abdurrazaq ‘Afifi

Anggota          : Abdullah bin Ghudayan

Anggota          : Abdullah bin Mani’                                  

(Sumber : Fatwa lajnah daimah lilbuhuts al-ilmiyah walifta’ tentang aqidah yang disusun oleh Syaikh Ahmad bin Abdurrazaq Ad-Duwaisy, dari situs www.dorar.net atau mauqi’u ad-durar as-saniyah).

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.