Info Pondok
Friday, 03 Feb 2023
  • Pondok pesantren ibnu abbas sragen yang beralamatkan di Beku Kliwonan Masaran Sragen Jawa Tengah

Hukum Mendatangi Tukang ramal dan Dukun

Diterbitkan : - Kategori : Tak Berkategori

FATWA LAJNAH DAIMAH LILBUHUTS AL-ILMIYAH WALIFTA’

JILID 1 TENTANG AQIDAH

Disusun oleh: ASY-SYAIKH AHMAD BIN ABDURRAZAQ AD-DUWAISY

حكم إتيان العرافين والكهنة

فتوى رقم (7323):

س: أفيد سماحتكم أنني تزوجت بفتاة يتيمة الأم غير متعلمة وذلك في عيد الفطر من عام 1403هـ، وفي بداية شهر ذي الحجة أصابها مرض نفسي عبارة عن بكاء ونحيب ويرتفع أحيانا إلى صراخ وعويل. فأخذها والدها إلى منزله وأحضر لها كاهنا لمعالجتها فعالجها بالدخائن المنتنة وأمر بحبسها طوال شهر محرم في غرفة مظلمة ويسمون هذا العلاج: الحجبة، وقد حدث هذا دون أخذ موافقتي فشفيت وبقيت في بيت أهلها شهري صفر وربيع الأول فعادت إلى منزلي في بداية شهر ربيع الثاني فعاد إليها المرض نفسه. والآن أقوم بمعالجتها عند طبيب أخصائي نفسي يعالجها بالقرآن والأدعية المأثورة بالإضافة إلى العلاجات الأخرى ولكن أهلها غير مقتنعين ويريدون علاجها لدى أحد الكهنة. وقد منعني أهلها من قراءة القرآن عليها إذا أصابتها النوبة؛ لأن الكاهن أخبرهم بأنني أنا السبب في زيادة مرضها؛ لأنني قرأت عليها المعوذتين وآية الكرسي. فما هو الموقف الذي يجب أن أتخذه إذا عرضها والدها على كاهن آخر؟ أرجو مساعدتي بالرد في أسرع وقت.

ج: أحسنت بعلاجها بقراءة القرآن عليها ورقيتها بالأدعية النبوية المأثورة، لكن يحرم خلوة الأجنبي الذي يرقيها بها، ويحرم عليها أن تكشف شيئا من عورتها أمامه أو يضع يده عليها، ولو توليت علاجها بذلك أو تولاه أحد محارمها كان أحوط، ونرى أن تعالجها أيضا بالمستشفى ونحوه عند دكتور الأمراض النفسية فإنه متخصص في علاج هذا المرض.

أما عرضها على الكهان والذهاب بها إليهم للعلاج فممنوع؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم: من أتى عرافا فسأله عن شيء لم تقبل له صلاة أربعين ليلة رواه مسلم في صحيحه ولقوله صلى الله عليه وسلم: من أتى كاهنا وصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم وفق الله الجميع لاتباع الحق والتمسك به وترك المخالفة.

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد, وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضوعضونائب رئيس اللجنةالرئيس
عبد الله بن قعودعبد الله بن غديانعبد الرزاق عفيفيعبد العزيز بن عبد الله بن باز

Hukum Mendatangi Tukang ramal dan Dukun                 

Fatwa nomor 7323.

Pertanyaan: Saya ingin menyampaikan kepada anda sekalian yang mulia bahwa saya telah menikah dengan seorang wanita yang ibunya telah meninggal yang tidak berpendidikan. Saya menikah pada bulan Idul Fithri tahun 1403 H. Pada awal bulan Dzulhijjah, ia terkena penyakit jiwa sebagai gambaran dari perilakunya yang menangis, meratap dan terkadang menjerit/teriak dengan suara tinggi. Lalu ayahnya membawanya ke rumahnya. Ia menghadirkan dukun untuk mengobati istriku. Dukun itu mengobatinya dengan memberinya asap-asap yang bau dan menyuruh mengurung istriku selama bulan Muharam di sebuah kamar yang gelap, mereka menamakan pengobatan ini “al-Hijbah”. Hal ini terjadi tanpa meminta persetujuannku. Lalu istriku sembuh dan tetap tinggal di rumah ayahnya selama bulan shafar dan rabi’ul awal. Barulah ia kembali ke rumahku pada awal bulan rabi’utstsani. Lalu penyakitnya kambuh lagi. Sekarang saya yang mengobatinya dengan membawanya kepada dokter spesialis kejiwaan yang mengobati dengan al-Qur’an dan doa’-do’a yang diriwayatkan (dari Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam) dan dengan pengobatan lainnya. Tetapi keluarganya tidak terima dan menginginkan agar pengobatannya ditangani seorang dukun. Keluarganya melarangku membacakan al-Qur’an kepadanya ketika penyakitnya kambuh; karena dukun memberitahu mereka bahwa saya yang menyebabkan sakitnya semakain parah; karena saya membacakan kepadanya al-Muawwidatain dan ayat kursi. Apa yang harus saya lakukan jika ayahnya membawanya kepada dukun yang lain? Saya memohon bantuan dengan secepatnya membalas suratku.

Jawab: Anda telah melakukan perbuatan yang baik dengan mengobatinya dengan al-Qur’an dan ruqyah dengan do’a-do’a yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, hanya saja diharamkan orang asing yang meruqyah berduaan dengannya. Diharamkan juga membuka auratnya didepan orang yang meruqyahnya atau orang yang meruqyah meletakkan tangannya kepada wanita tersebut. Jika engkau mampu mengobatinya atau salah satu mahramnya maka itu lebih selamat. Kami memandang perlu juga anda mengobatinya dengan membawanya ke rumah sakit atau semisalnya kepada dokter penyakit kejiwaan karena ia spesialis menangani penyakit ini.

Adapun membawanya kepada dukun untuk pengobatan maka dilarang berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa mendatangi tukang ramal lalu bertanya tentang sesuatu maka shalatnya selama empat puluh malam tidak diterima” (HR. Muslim dalam kitab shahihnya). Juga berdasarkan sabda beliau shallalahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa mendatangi dukun dan membenarkan apa yang dikatakannya maka ia telah ingkar dengan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” Semoga Allah memberi taufik kepada semuanya untuk mengikuti kebenaran, berpegang teguh dengannya dan menjauhi dari sikap menyelisihinya.       

Semoga Allah memberi taufiq dan semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Komite Tetap Riset Ilmiyah dan Fatwa

Ketua              : Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz

Wakil ketua     : Abdurrazaq ‘Afifi

Anggota          : Abdullah bin Ghudayan

Anggota          : Abdullah bin Qu’ud                                  

(Sumber : Fatwa lajnah daimah lilbuhuts al-ilmiyah walifta’ tentang aqidah yang disusun oleh Syaikh Ahmad bin Abdurrazaq Ad-Duwaisy, dari situs www.dorar.net atau mauqi’u ad-durar as-saniyah).

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.