MEMBACA AL-QUR’AN ADALAH CAHAYA DI BUMI, DAN KEMULIAAN DI LANGIT

Ustadz Muslim Atsari

HADITS HADITS FADHOIL AL QURAN

HADITS ABU SA’ID AL-KHUDRIY:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ رَجُلًا جَاءَهُ فَقَالَ: أَوْصِنِي. فَقَالَ: سَأَلْتَ عَمَّا سَأَلْتُ عَنْهُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ قَبْلِكَ،
«أُوصِيكَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهُ رَأْسُ كُلِّ شَيْءٍ،
وَعَلَيْكَ بِالْجِهَادِ، فَإِنَّهُ رَهْبَانِيَّةُ الْإِسْلَامِ،
وَعَلَيْكَ بِذِكْرِ اللَّهِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ، فَإِنَّهُ رَوْحُكَ فِي السَّمَاءِ، وَذِكْرُكَ فِي الْأَرْضِ»

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy, bahwa seorang laki-laki mendatanginya, lalu berkata, “Berilah wasiat kepadaku!” Lalu dia menjawab:
“Engkau telah meminta dengan perkara yang sebelum kamu (meminta ini) aku telah meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, (beliau bersabda):

“Aku berwasiat kepadamu dengan taqwa kepada Alloh, sesungguhnya itu pokok segala sesuatu.
Hendaklah engkau berjihad, sesungguhnya itu adalah kependetaan di dalam Islam.
Hendaklah engkau (banyak) berdzikir dan membaca Al-Qur’an, sesungguhnya itu adalah ruh-mu di langit dan kemuliaan-mu di bumi”.

(HR. Ahmad, no. 11774; sanad ini lemah, namun dikuatkan dengan riwayat Thobroni di dalam Al-Mu’jamul Kabir, no. 949, sehingga Syaikh Al-Albani menghasankannya di dalam Ash-Shohihah, no. 555)

Dalam riwayat lain dengan lafazh:

«عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَإِنَّهَا جِمَاعُ كُلِّ خَيْرٍ ,
وَعَلَيْكَ بِالْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؛ فَإِنَّهَا رَهْبَانِيَّةُ الْمُسْلِمِينَ ,
وَعَلَيْكَ بِذِكْرِ اللَّهِ وَتِلَاوَةِ كِتَابِهِ؛ فَإِنَّهُ نُورٌ لَكَ فِي الْأَرْضِ وَذِكْرٌ فِي السَّمَاءِ ,
وَاخْزُنْ لِسَانَكَ إِلَّا مِنْ خَيْرٍ، فَإِنَّكَ بِذَلِكَ تَغْلِبُ الشَّيْطَانَ»

“Aku berwasiat kepadamu dengan taqwa kepada Alloh, sesungguhnya itu pokok segala kebaikan.
Hendaklah engkau berjihad fii sabilillah, sesungguhnya itu adalah kependetaan kaum muslimin.
Hendaklah engkau (banyak) berdzikir kepada Alloh dan membaca kitab-Nya, sesungguhnya itu adalah cahaya-mu di bumi dan kemuliaan-mu di langit.
Dan simpan-lah lidahmu kecuali dari kebaikan, karena sesungguhnya dengan itu engkau akan mengalahkan syaithon”.

(HR. Thobroni di dalam Al-Mu’jamul Kabir, no. 949; Syaikh Al-Albani menghasankannya di dalam Ash-Shohihah, no. 555)

FAWAID HADITS:
Ada beberapa faedah yang bisa kita ambil dari hadits ini, antara lain:

  1. Anjuran untuk meminta wasiat (pesan penting) kepada seorang ‘alim.
  2. Urgensi bertaqwa kepada Alloh, karena taqwa adalah pokok segala kebaikan.
  3. Urgensi berjihad fii sabilillah, karena merupakan kemuliaan umat dan kependetaan kaum muslimin.
  4. Agama Islam tidak membenarkan bid’ah kependetaan sebagaimana di kalangan orang Katolik. Pendeta mereka meninggalkan pernikahan, kepemilikan harta, dan mereka taat mutlak kepada pendeta di atasnya. Bahkan sebagian mereka menyepi di tempat-tempat terpencil.
  5. Urgensi banyak berdzikir dan membaca Al-Qur’an, itu adalah cahaya di bumi bagi orang yang mengamalkannya, dan kemuliaan-nya di langit.
  6. Urgensi banyak diam, kecuali dari kebaikan, itu adalah jalan keselamatan.
  7. Orang yang mampu mengendalikan lidahnya, dan hanya berbicara di dalam kebaikan, akan mengalahkan syaithon.
  8. Syaithon berusaha mencelakakan manusia lewat lidahnya, yaitu dengan berkata dengan perkataan yang bukan kebaikan.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju sorga-Nya yang penuh kebaikan.

Ditulis oleh Muslim Atsari,
Sragen, Bakda Ashar Senin, 3-Rojab-1442 H / 15-Februari-2021 M

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.