AL-QUR’AN DAN PUASA AKAN MEMOHONKAN SYAFA’AT

Ustadz Muslim Atsari

HADITS HADITS FADHOIL AL QURAN

HADITS ABDULLOH BIN ‘AMR

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
” الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ،
يَقُولُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ،
وَيَقُولُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ “، قَالَ: “فَيُشَفَّعَانِ”

Dari Abdulloh bin ‘Amr, bahwa: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “(Amalan) puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat.
(Amalan) puasa akan berkata: “Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka terimalah syafa’at-ku untuknya”.
(Amalan) Al-Qur’an berkata: “Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka terimalah syafa’at-ku untuknya”.
Beliau bersabda: “Kemudian keduanya diterima syafa’atnya.”
(HR. Ahmad, no. 6626, sanadnya lemah sebab Ibnu Lahi’ah. Namun dikuatkan Ibnu Wahb di dalam HR. Thobroni di dalam Al-Kabir, 13/38, no. 88; Ibnu Nashr Al-Mawarzi di dalam Mukhtashor Qiyamil Lail, hlm. 46; Al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, no. 1839; dan Al-Hakim, no. 2036, dan dia menshohihkannya. Syaikh Al-Albani menshohihkan di dalam Shahih At-Targhib, no. 984, Shohihul Jami’, no. 3882, Misykatul Mashobih, no. 1963 dan Tamamul Minnah, hlm. 394)

FAWAID HADITS:
Ada beberapa faedah yang bisa kita ambil dari hadits ini, antara lain:

  1. Amalan puasa akan memberi syafa’at di hari kiamat bagi orang yang berpuasa, dengan berkata: “Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka terimalah syafa’at-ku untuknya”.
  2. Waktu puasa mulai terbit fajar shodiq sampai matahari tenggelam, sehingga puasa tidak akan membinasakan, bahkan baik untuk kesehatan.
  3. Amalan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at di hari kiamat bagi orang yang membacanya, dengan berkata: “Aku telah menahannya dari tidur di waktu malam, maka terimalah syafa’at-ku untuknya”.
  4. Orang yang memiliki hafalan Al-Qur’an sepantasnya banyak muroja’ah (mengulang-ulang) hafalan di setiap waktu, khususnya di malam hari dengan menggunakannya untuk sholat lail, sehingga hafalannya kuat.
  5. Urgensi beramal sholih di dunia, sebab akan menjadi sarana keselamatan di akhirat.
  6. Pada hari kiamat ada syafa’at yang diterima, yaitu dengan dua syarat: pertama: yang memohonkan syafa’at diberi idzin oleh Alloh, kedua: yang dimohonkan adalah orang yang diridhoi oleh Alloh, yaitu orang yang beriman.
  7. Pada hari kiamat ada syafa’at yang ditolak, yaitu yang tidak memenuhi syaratnya.
  8. Pada hari kiamat Alloh akan mewujudkan bentuk pahala amal sholih dan menjadikannya bisa berbicara. Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan tidak boleh mentakwilkannya dengan kiasan atau gambaran. Syaikh Al-Albani berkata: “Mentakwil (merubah makna) nash-nash seperti ini bukan dari jalan Salaf ridhiyallohu ‘anhum, namun itu adalah jalan Mu’tazilah dan Kholaf yang mengikuti jalan mereka. Dan ini bertentangan dengan syarat iman yang pertama “orang-orang yang beriman kepada perkara ghoib”, maka waspadalah! engkau jangan mengikuti jalan mereka, sehingga engkau akan sesat dan celaka, kita berlindung kepada Alloh Ta’ala”. (Catatan kaki Shahih At-Targhib, no. 984)

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju sorga-Nya yang penuh kebaikan.

Ditulis oleh Muslim Atsari,
Sragen, Bakda Isya’ Ahad, 2-Rojab-1442 H / 14-Februari-2021 M

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.