Barangsiapa Meninggal dalam Kondisi Memiliki 5 Istri atau Lebih, Apakah Dia Muslim?

Fatwa

FATWA LAJNAH DAIMAH LILBUHUTS AL-ILMIYAH WALIFTA’

JILID 1 TENTANG AQIDAH

Disusun oleh: ASY-SYAIKH AHMAD BIN ABDURRAZAQ AD-DUWAISY

من مات وله خمس نسوة أو زائد هل هو مسلم
السؤال السادس من الفتوى رقم (5318):

س 6: من مات وله خمس نسوة أو زائد أهو مسلم لنصلي عليه بعد موته،وقد علمنا قول الله جل شأنه: أفتؤمنون ببعض الكتاب وتكفرون ببعض فما جزاء من يفعل ذلك منكم إلا خزي في الحياة الدنيا

ج 6: لا يثبت الإيمان لمن قال: لا إله إلا الله, إلا إذا قالها خالصا من قلبه, ولا تعتبر عند الله إلا إذا كانت كذلك, أما في الدنيا فيعامل من قالها معاملة المسلمين مطلقا،ولو كان غير مخلص فيها؛ لأنا إنما نأخذ بالظاهر والله هو الذي يتولى السرائر, ومن قالها وأتى بما ينقضها كفر, كمن يستحل ما علم من الدين بالضرورة بعد البلاغ, مثل: مستحل الزنى, ونكاح المحارم, ومن نواقضها ترك الصلاة عمدا مع إبلاغه وأمره والنصح له, على الصحيح من أقوال العلماء, ومنها تعليق الحجب والتمائم, من غير القرآن, مع اعتقاد تأثيرها, أما إذا اعتقد أنها سبب للشفاء أو حفظه من الجن والعين فهي محرمة ولا تنقض الإسلام, ولكنها من أنواع الشرك الأصغر; لقوله صلى الله عليه وسلم: من تعلق تميمة فلا أتم الله له, ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له وأما تعليق التمائم من القرآن ففي جوازه خلاف بين العلماء, والأرجح تحريم ذلك؛ لعموم الأدلة, ولسد الذريعة المفضية إلى تعليق غيره, ومن نواقض الإسلام الاستغاثة بالأموات والأصنام ونحوها من الجمادات أو بالغائبين من الجن والإنس أو بالأحياء الحاضرين فيما لا يقدر عليه إلا الله, ونحو ذلك,

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد, وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو نائب رئيس اللجنة الرئيس

Barangsiapa Meninggal dalam Kondisi Memiliki Lima Istri atau Lebih, Apakah Dia Muslim?

Pertanyaan keenam dari fatwa nomor 5318:

Pertanyaan:

Seseorang meninggal dalam kondisi memiliki lima istri atau lebih, apakah dia orang Muslim sehingga kita menshalatinya setelah ia meninggal? Sungguh kita telah mengetahui firman Allah ta’ala yang sangat mulia perkara-Nya: “Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia”

Jawab:

Tidak sah iman orang yang mengucapkan laa ilaha illallah kecuali jika ia mengucapkannya ikhlas dari hatinya, dan ucapan itu tidak diterima di sisi Allah kecuali jika seperti itu kondisinya. Adapun di dunia, orang yang mengucapkan kalimat tersebut diperlakukan layaknya seorang muslim secara mutlak, meskipun ia mengucapkannya tidak ikhlas. Hal ini karena kita menghukumi secara dhahir dan Allah lah yang memutuskan perkara-perkara yang tersembunyi. Barangsiapa mengucapkannya lalu melakukan hal-hal yang membatalkannya maka ia menjadi kafir, seperti orang yang menghalalkan perkara agama yang dimaklumi ketentuan (hukumnya oleh semua kaum muslimin) setelah sampai dakwah kepadanya; seperti menghalalkan zina dan menikahi para muhrim.

Termasuk pembatal laa ilaha illallah adalah meninggalkan shalat dengan sengaja padahal dakwah telah sampai kepadanya, dan telah diperintah dan dinasehati agar ia melaksanakannya, berdasarkan pendapat yang benar dari pendapat-pendapat para ulama’.

Termasuk pembatal kalimat laa ilaha illallah adalah mengalungkan jimat dan penangkal selain dari Al-Qur’an dan meyakini bisa memberi pengaruh (menolak bala’ dan sejenisnya). Adapun jika meyakini bahwa ia merupakan sebab kesembuhan atau (sebab yang) menjaganya dari jin atau penyakit ‘ain maka ini haram tetapi tidak mengeluarkan dari Islam, ini termasuk jenis syirik kecil, berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa mengalungkan tamimah maka Allah tidak menyempurnakan urusannya, barangsiapa mengalungkan wada’ah maka Allah tidak akan memberinya ketenangan”. Adapun mengalungkan tamimah dari Al-Qur’an terdapat perbedaan pendapat para ulama’ tentang kebolehannya, yang rajih hukumnya haram, karena keumuman dalil dan sebagai antisipasi agar tidak menggantungkan dari selainnya.

Termasuk pembatal keislaman adalah istighatsah dengan mayat, patung dan benda-benda mati yang lain atau dengan sesuatu yang ghaib dari jin ataupun manusia, atau dengan yang hidup dan hadir di tempat (ketika ia meminta) tetapi (yang diminta) adalah seuatu yang hanya bisa dikabulkan oleh Allah, dan hal-hal lain yang serupa dengan itu.

Semoga Allah memberi taufiq dan semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Komite Tetap Riset Ilmiyah dan Fatwa

Ketua : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil ketua : Abdurrazaq ‘Afifi

Anggota : Abdullah bin Qu’ud

(Sumber : Fatwa lajnah daimah lilbuhuts al-ilmiyah walifta’ tentang aqidah yang disusun oleh Syaikh Ahmad bin Abdurrazaq Ad-Duwaisy, dari situs www.dorar.net atau mauqi’u ad-durar as-saniyah).

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.