Keutamaan Hari Arafah

Fiqih

Haji adalah rukun Islam kelima yang diwajibkan kepada setiap muslim yang mukallaf dan mampu untuk menunaikannya. Allah berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Alimron/3:97)

Haji memiliki keutamaan yang agung dijelaskan dalam sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلا الْجَنَّةُ

Haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali syurga (HR Muslim no. 1349). Juga sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ , فَلَمْ يَرْفُثْ , وَلَمْ يَفْسُقْ , رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berbuat mesum dan tidak berbuat fasiq makakembali sebagaimana dilahirkan ibunya. (HR al-Bukhari no. 1819 dan Muslim 1350).

Allah mengkhususkan kewajiban haji ini dengan menjadikan hari-hari pelaksanaannya sebagai hari terbaik dalam setahun sebagaimana dijelaskan dalam sabda beliau:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ ». فقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ: “وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ”.

Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada hari–hari yang sepuluh ini”. Para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allâh ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allâh, kecuali orang yang keluar mempertaruhkan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan sesuatupun.” [HR al-Bukhâri no. 969 dan at-Tirmidzi no. 757, dan lafazh ini adalah lafazh riwayat at-Tirmidzi]

Kemudiaan mengkhususkan hari Arafah diantara sepuluh hari tersebut dengan banyak keutamaan, diantaranya:

I. Sebaik-baik hari dalam setahun

Hari Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah setiap tahun merupakan salah satu hari dari sepuluh hari awal Dzulhijjah yang menjadi hari-hari paling utama sepanjang tahun. Beramal shalih pada sepuluh hari pertama dzulhijjah menjadi amalan terbaik juga. Bahkan dalam madzhab Syâfi’i disebutkan bahwa jika ada orang yang mengatakan, ‘Isteri saya jatuh talak pada hari paling utama’, maka talak tersebut jatuh pada hari Arafah.[Lihat: Syarah Shahih Muslim karya an-Nawawi 3/477.]

Keistimewaan hari ini berdasarkan pada dalil yang bersifat umum dan khusus.

Dalil yang bersifat umum adalah

Firman Allah Ta’ala:

وَلَيَالٍ عَشْرٍ

dan malam yang sepuluh, (QS. Al-Fajr/89:2)

Allah bersumpah dengan sepuluh hari pertama dzulhijjah dalam ayat ini dan Allahtidak bersumpah dengan sesuatu kecuali karena keagungannya.

Ibnu Abbas berkata, Sesungguhnya malam yang sepuluh yang digunakan Allah dalam sumpahNya adalah malam sepuluh pertama dari Dzilhijjah. Demikian juga pendapat Abdullah bin az-Zubair, Mujaahid, Masruuq, Ikrimah, Qatadah, ad-Dhahaak dan selain mereka dari salaf ummat ini dan Ibnu jarir merojihkannya dan menukilkan ijma’ ahli tafsir dalam hal ini. (lihat Jaami’ al-Bayaan Fi Tafsir al-Qur`an 24/345-348).

Hadits Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ ». فقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ: “وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ”.

Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari–hari yang sepuluh ini”. Para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allâh ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allâh, kecuali orang yang keluar mempertaruhkan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan sesuatupun.” [HR al-Bukhari no. 969 dan at-Tirmidzi no. 757]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Siang hari sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah lebih utama daripada malam sepuluh terakhir bulan Ramadhân, dan malam sepuluh hari terakhir Ramadhan lebih utama daripada malam sepuluh hari pertama Dzulhijjah.”[ Al-Fatâwa al-Kubrâ 2/477].

Adapun dalil khusus yang menunjukkan keistimewaan hari Arafah ini adalah Firman Allah :

وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ

Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. (QS. Al-Buruuj/85:3)

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan maksud ayat ini dengan sabdanya:

الْيَوْمُ الْمَشْهُودُ يَوْمُ عَرَفَةَوَالشَاهِدُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ

Hari yang disaksikan adalah hari Arafah dan yang menyaksikan adalah hari jum’at (HR at-Tirmidzi no 3339 dan dihasankan al-Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah no. 1502)

Demikianlah ditafsirkan seperti ini oleh Khalifah Ali bin Abi Thaalib, Abu Hurairah dan Ibnu Abbas (lihat Jaami’ al-Bayaan Fi Tafsir al-Qur`an 24/264).

Allah dalam ayat ini bersumpah dengan hari Arafah yang menunjukkan urgensi tinggi dan keutamaan hari ini.

II. Hari Arafah adalah hari disempurnakannya agama dan nikmat.

Allah menurunkan kepadaNabiNya pada siang hari Arafah firmanNya:

( الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا )

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”

Dalam shahihain (Bukhari-Muslim), dari jalan periwayatan Thariq bin Syihaab bahwa ada seorang Yahudi berkata kepada ‘Umar bin al-Khthab dengan berkata,

آيَةٌ فِى كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا لَوْ عَلَيْنَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ نَزَلَتْ لاَتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا . قَالَ أَىُّ آيَةٍ قَالَ ( الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا ) . قَالَ عُمَرُ قَدْ عَرَفْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ وَالْمَكَانَ الَّذِى نَزَلَتْ فِيهِ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهُوَ قَائِمٌ بِعَرَفَةَ يَوْمَ جُمُعَةٍ

“Ada ayat dalam kitab kalian yang kalian membacanya dan seandainya ayat tersebut turun di tengah-tengah orang Yahudi, tentu kami akan menjadikannya sebagai hari perayaan (hari ‘ied).” “Ayat apakah itu?” tanya ‘Umar. Ia berkata, “(Ayat yang artinya): Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” ‘Umar berkata, “Kami telah mengetahui hal itu yaitu hari dan tempat di mana ayat tersebut diturunkan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Beliau berdiri di ‘Arofah pada hari Jum’at.”(HR. Bukhari no. 45 dan Muslim no. 3017).

Ibnu Jarir menjelaskan pengertuan ayat ini dengan berkata, ‘Hari yang aku sempurnakan untuk kalian wahai kaum mukminun tentang hal-hal yang diwajibkan atas kalian, batasan hukum (hudud), perintah dan larangan, halal dan haram…dan dalil-dalil yang aku tetapkan kepada kalian atas emua yang menjadi kebutuhanmu dari prkara agama. Lalu aku sempurnakan untuk kalian hal tersebut sehingga tidak ada tambahan setelah hari ini dan itu terjadi pada hari Arafah, tahun dimana Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam melakukan haji wada (Jaam’ al-Bayaan Fi Tafsir al-Quran 8/80).

Sedangkan Ibnu Katsir Asy Syafi’i Rohimahullah berkata dalam kitab tafsirnya, “Ayat ini merupakan kenikmatan terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada umat ini. Allah telah sempurnakan bagi mereka agamanya sehingga mereka tidak membutuhkan agama dan nabi yang lain. Oleh karena itu, Allah menjadikan Rasul kita -shollallahu ‘alaihi wa Sallam– sebagai penutup para Nabi yang diutus kepada seluruh manusia dan jin. Maka, tidaklah ada suatu yang halal kecuali apa yang beliau halalkan, tidaklah ada suatu yang haram kecuali yang telah beliau haramkan, dan tidaklah ada agama kecuali yang beliau syari’atkan”( Lihat Shohih Tafsir Ibnu Katsir oleh Syaikh Musthofa Al Adawi hafidzahullah hal. 591/I Cetakan Dar Ibnu Rojab, Kairo, Mesir dan ‘Ilmu Ushul Bida` oleh Fadhilatusy Syaikh ‘Ali bin Hasan bin Abdul Hamiid Al Halabi hafidzahullah hal. 17 terbitan Dar Ar Rooyah, Riyadh)

Oleh karena itu hendaknya kita mengingat hal ini ketika berada pada hari Arafah baik yang sedang wukuf di Arafah atau yang sedang berpuasa arafah tentang kesempurnaan nikmat Allah atas semua makhlukNya dengan disepurnakannya agama ini. Kemudian bersemangat untuk menjaga syariat agama dan menjauhi semua kebidahan dalam agama.

III. Di Hari Ini Allâh Azza Wa Jalla Paling Banyak Membebaskan Manusia Dari Neraka.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟

Tidak ada hari di mana Allâh Azza wa Jalla membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para malaikat dan berkata: Apa yang mereka inginkan?” [HR. Muslim no. 1348]

Seorang muslim hendaknya semangat untuk memfokuskan diri menghadap Allah di hari agung imi dan memperbanyak doa agar dimasukkan kedalam golongan orang yang dibebeaskan dari neraka pada siang hari tersebut. Demikian juga bersemangat untuk menjauhi semua perkara yang mencegahnya mendapatkan keutamaan agung ini. Diantaranya adalah kesyirikan yang menghancurkan semua amalan kita seperti dijelaskan dalam firman Allah :

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَالْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu:”Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar/39:65)

Disamping itu juga syirik merupakan dosa yang tidak diampuni Allah, seperti dijelaskan dalam firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisaa`/4:48)

Demikian juga menjauhi semua kebidahan yang menyebabkan amalan tertolak dan tidak diterima. Juga perbuatan sombong merasa dirinya besar dan takabur atas orang lain. Telah diriwayatkan dari Jaabir bin Abdillah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لَا تَرَى يَوْمًا أَكْثَرَ عَتِيقًا أَوْ عَتِيقَةً مِنَ النَّارِ مِنْهُ، لَا يَغْفِرُ اللَّهُ فِيهِ لِمُخْتَالٍ

Tidaklah kamu lemihat satu hari yang lebih banyak dimerdekakan dari neraka darinya (hari Arafah) dan Allah tidak mengampuni pada waktu itu orang yang sombong (HR al-Isma’ili dalam Mu’jam Asaami asy-Syuyukh hlm 326 daan Abdurrazaaq dalam al Mushannaf no. 8813 dan dinilai hasan dengan dua jalannya oleh Syeikh Abdurrazaq al-Badr.

IV. Rabb mendekat kepada HambaNya di Hari ini.

Hal ini disampaikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟

Tidak ada hari di mana Allâh Azza wa Jalla membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para malaikat dan berkata: Apa yang mereka inginkan?” [HR. Muslim no. 1348]

Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam: (وَإِنَّهُ لَيَدْنُو) artinya turun kelanggit dunia dan mendekat dari hambaNya di ‘Arafaat dengan kedekatan sesuai kebesaran dan keagungannya serta kemaha sempurnaanNya tanpa memvisualkan dan menyerupakan dengan selainnya, tanpa menyimpangkannya dan menafikannya Sifat turun dan dekat dari ahli Arafah termasuk rahmat Allah dimana akan ada disana banyak kebaikan dan keberkahan serta turunya rahmat Allah, sebagaimana dalam hadits dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau menjawab seorang sahabat ketika bertanya tentang pahala berhaji. Beliau bersabda:

فَإِنَّ لَكَ مِنَ الْأَجْرِ إِذَا أَمَمْتَ الْبَيْتَ الْعَتِيقَ أَلَا تَرْفَعَ قَدَمًا أَوْ تَضَعَهَا أَنْتَ ودَابَّتُكَ إِلَّا كُتِبَتْ لَكَ حَسَنَةٌ، وَرُفِعَتْ لَكَ دَرَجَةٌ، وَأَمَّا وُقُوفُكَ بِعَرَفَةَ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ لِمَلَائِكَتِهِ: يَا مَلَائِكَتِي مَا جَاءَ بِعِبَادِي؟ قَالُوا: جَاءُوا يَلْتَمِسُونَ رِضْوَانَكَ وَالْجَنَّةَ، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: فَإِنِّي أُشْهِدُ نَفْسِي وَخَلْقِي أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ عَدَدَ أَيَّامِ الدَّهْرِ، وَعَدَدَ الْقَطْرِ، وَعَدَدَ رَمْلِ عَالِجٍ، وَأَمَّا رَمْيُكَ الْجِمَارَ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: {فَلَا تَعَلَّمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [السجدة: 17] ، وَأَمَّا حَلْقُكَ رَأْسَكَ فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ شَعْرِكَ شَعَرَةٌ تَقَعُ فِي الْأَرْضِ إِلَّا كَانَتْ لَكَ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَمَّا الْبَيْتُ إِذَا وَدَّعْتَ، فَإِنَّكَ تَخْرُجُ مِنْ ذُنُوبِكَ كَيَوْمِ وَلَدَتْكَ أُمُّكَ»

Sungguh engkau mendapatkan dari pahala apabila kamu telah berangkat ke Ka’bah maka tidaklah kamu dan kendaraanmu mengangkat kaki atau meletakkannya kecuali ditulis untukmu satu kebaikan dan diangkat untukmu satuderajat. Adapun wukufmu di Arafah, maka Allah berfirman kepada para Malaikat, Wahai para Malaikat mengapa hambaKu datang? Mereka menjawab: Mereka datang menceri keridhan Engkau dan syurga. Lalu Allah befirman, Sungguh Aku bersaksi kepada diriKu dan makhlukKu bahwa Aku telah mengampuni dosa mereka sejumlah hari-hari setahun dan sejumlah tetesan huja dan sejumlah pasir yang saling bertumpuk-tumpuk. Sedangkan lemparanmu batu jamrah maka Allah berfirman: (yang artinya), Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. As-Sajdah/32:17). Sedangkan cukuran kepalamu aka tidaklah ada satu helaipun dari rambutmu jatuh ke tanah kecuali akan menjadi cahaya bagimu di hari kiamat. Adapun Ka’bah bila kamu tinggalkan maka kamu keluar dari dosamu seperti hari ibumu melahirkanmu. (HR ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath no.2320 dan dihasankan al-Albani dalam shahih at-Targhib wa at-Tarhib no 1113).

Sedangkan dalam riwayat yang lebih jelaslagi dalam al-Mu’jam al-kabir dengan redaksi:

وَأَمَّا وُقُوفُكَ بِعَرَفَةَ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ فَيَقُولُ: «هَؤُلَاءِ عِبَادِي جَاءُونِي شُعْثًا غُبْرًا مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ يَرْجُونَ رَحْمَتِي، وَيَخَافُونَ عَذَابِي، وَلَمْ يَرَوْنِي، فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي فَلَوْ كَانَ عَلَيْكَ مِثْلُ رَمْلِ عَالِجٍ، أَوْ مِثْلُ أَيَّامِ الدُّنْيَا أَوْ مِثْلُ قَطْرِ السَّمَاءِ ذُنُوبًا غَسَلَهَا اللهُ عَنْكَ

Adapun wukup mu di Arafah, maka Allah ‘Azza wa Jalla turun kelangit dunia lalu berbangga dengan kalian dihadapan Malaikat lalu berfirman: “Mereka hamba-hambaKu datang kepadaku dalam keadaan kusut berdebu dari semua penjuru yang kauh mengharapkan rahmatKu dan takut dengan adzabKu dan mereka belum melihatKu, Bagaimana seandainya mereka telah melihatKu”. Seandainya kamu memiiki dosa seperti pasir yang bertumpuk-tumpuk atau sepertu hari-hari dunia atau seperti tetasan air hujan maka Allah akan mencucinya dari kamu. (HR ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabiir no. 1566 dan dihasankan al-Albani dalam Shahih al-Jaami no. 1360).

V. Allah berbangga-bangga dengan ahli Arafah dihadapan Malaikat.

Allah pun bangga dengan orang yang wukuf di Arafah dan menampakkan hal itu dihadapan Malaikat. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِى مَلاَئِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ فَيَقُولُ انْظُرُوا إِلَى عِبَادِى أَتَوْنِى شُعْثاً غُبْراً

“Sesungguhnya Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore Arafah dengan orang-orang di Arafah, dan berkata: “Lihatlah keadaan hambaku, mereka mendatangiku dalam keadaan kusut dan berdebu” (HR. Ahmad no. 8047 dn dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ no. 1868).

Ini adalah keutamaan besar bagi orang yang wukuf di Arafah, sebab Allah berbangga-bangga dengan mereka dihadapan malaikat untuk memuliakan mereka. Meskipun demikian, Allah tetap maha kaya dari hamba-hambaNya tidak membutuhkan haji dan doa mereka.

Keutamaan ini menunjukkn Allah telah mengampuni dosa mereka dan memafkan kesalahan mereka, karena para jamaah haji dtang dari berbagai belahan bumi dan berbagai negara untuk mencari rahmat Allah dan meraih ridha dan syurga Allah. Oleh karena itu Allah mengampuni dosa merekan dan berbangga dihadapan Malaikat, sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَهْبِطُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيُبَاهِي بِكُمُ الْمَلائِكَةَ يَقُولُ: عِبَادِي جَاءُونِي شُعْثًا مِنْ كِلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ يَرْجُونَ رَحْمَتِي فَلَوْ كَانَتْ ذُنُوبُكُمْ كَعَدَدِ الرَّمْلِ، أَوْ كَقَطْرِ الْمَطَرِ، أَوْ كَزَبَدِ الْبَحْرِ لَغَفَرَهَا، أَوْ لَغَفَرْتُهَا،

Sesungguhnya Allah Tabaaraka wa ta’ala turun kelangit dunia lalu berbangga bangga dengan kalian dihadapan Malaikat dengan berfirman: Hambaku datang kepadaku dalam keadaan kusut dari semua penjuru yang kauh mengharapkan rahmatKu. Seandainyadosa-dosa mereka sejumlah pasir atau seperti tetesan hujan atau buih lautan pasti mengampuninya atau aku mengampuninya. (HR al-Bazzaar dalam Musnadnya no. 6177 dan dihasankan al-Albani dalam Shahih at-targhib wa at-Tarhib no. 1112).

VI. Hari Arafah hari yang diharapkan terijabahi seluruh doa pada hari itu dan doa pada hari itu adalah sebaik-baiknya doa.

Hal ini diberitakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya (Abdullah bin Amru bin al-Ash) bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Sebaik-baiknya doa adalah doa pada hari Arafah dan sebaik-baik ucapan yang disampaikan Aku dan para Nabi sebelumku adalah La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir. (HR at-Tirmidzi dalam sunannya no. 3585 dan dishahihkan al-Albani ddalam Silsilah Ahadits Shahihah no. 1503).

Jadilah hari Arafah menjadi hari terbaik untuk berdoa kepada Allah. Ibnu Abdilbarr menjelaskan hadits ini dengan berkata, Dalam hadits ini berisi fikih bahwa doa hari Arafah lebih utama dari selainnya dan hadits ini juga menunjukkan bahwa doa hari Arafah diijabahi semuanya secara umum. (at-Tamhid 6/41).

Hal ini karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan dalam sabdanya:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟

Tidak ada hari di mana Allâh Azza wa Jalla membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para malaikat dan berkata: Apa yang mereka inginkan?” [HR. Muslim no. 1348]

Dalam hadits ini Allah Ta’ala bertanya kepada Malaikat, “Apa yang mereka inginkan?”.Ini disampaikan untuk memberikan semua yang mereka inginkan dan mengijabahi semua permintaan mereka. Tidak hanya ini saja, bahkan diantara pemulian Allah kepada orang-orang yang wukuf di Arafah, Allah menerima syafaat mereka bagi yang mereka doakan kebaikan dan mereka mintakan ampunannya, sebagaimana dalam sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

أَفِيضُوا عِبَادِي مَغْفُورًا لَكُمْ، وَلِمَنْ شَفَعْتُمْ لَهُ

Berangkatlah kalian dari Arofah wahai hamba-hambaKu dalam keadaan kalian terampuni dan orang yang kalin syafaatkan (HR al-Bazzaar no. 6177 dan dihasankan al-Albani dalam shahih al-Jaami` no. 1112).

Hendaknya seorang muslim meluangkan waktunya untuk berdoa, berdzikir dan beristighfar pada hari yang agung ini. Mendoakan dirinya, keduaorang tuanya, keluarga dan kaum muslimin dalam kedaan yakin diijabahi dan yakin bahwa Allah tidk akan menolak permintaannya dan tidak akan mengecewakan harapannya. Berdoa dengan ikhlas dan merengek kepada Allah dengan jujur dan berprasangka baik kepada Allah.

Al-Fudhail bin ‘Iyaadh wukuf di Arafah lalu melihat kepada orang-orang yang bersuara karena menahan tangis ditenggorokannya dan tangisan mereka di siang hari Arafah, lalu berkata, Bagaimana pendapat kalian seandainya mereka mendatangi seorang lalu minta darinya seperenam dirham apakah dia tidak akan memberi? Mereka menjawab, Tidak. Beliau berkata, Demi Allah, sungguh ampunan disisi Allah lebih ringan dari seorang memberi mereka seperenam dirham. (Majlis Fi Fadhli Yaumi Arafah karya Ibnu Naashiruddin ad-Dimasyqi hlm 63).

Abdullah bin al-Mubaarak berkata, Aku mendatangi Sufyaan ats-Tsauri siang hari Arafah dalam keadaan beliau berdiri diatas kedua lututnya dan bercucuran air matanya, lalu aku menangis dan beliau melihat kepadaku seraya berkata, Ada apa kamu? Aku menjawab: Siapakah orang yang ada di wukuf ini yang paling buruk keadaannya? Sufyaan menjawab, Yang berprasangka bahwa Allah tidak mengampuni mereka. (Dibawakan Ibnu Abi ad-Dunya dalam Husnu azh-Zhan Billahi hlm 96).

VII. Hari Arafah adalah hari yang paling membuat syeitan jengkel dan hari yang Allah penuhi hamba-hambaNya dengan rahmat dan ampunan dosa.

Hal ini yang membuat syeitan menjadi hina dan kecil. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mensifatkan syeitan dan keadaannya di hari tersebut dengan bersabda:

مَا رُئِيَ الشَّيْطَانُ يَوْمًا هُوَ فِيهِ أَصْغَرُ وَلَا أَدْحَرُ وَلَا أَحْقَرُ وَلَا أَغْيَظُ مِنْهُ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ وَمَا ذَاكَ إِلَّا لِمَا رَأَى مِنْ تَنَزُّلِ الرَّحْمَةِ وَتَجَاوُزِ اللَّهِ عَنْ الذُّنُوبِ الْعِظَامِ إِلَّا مَا أُرِيَ يَوْمَ بَدْرٍ قِيلَ وَمَا رَأَى يَوْمَ بَدْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَمَا إِنَّهُ قَدْ رَأَى جِبْرِيلَ يَزَعُ الْمَلَائِكَةَ

Tidaklah tambpak syaitan pada satu hari dia berada yang lebih rendah, jengkel, hina dan marah dari keadaannya di hari Arafah. Tidaklah hal itu kecuali karena melihat turunnya rahmat dan Allah memafkan dosa-dosa besar. Kecuali yang ditampakkan di perang Badar. Ada yang bertanya, Apa yang ditampakkan pada perng Badar wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Dia melihat Jibril mengatur barisan Malaikat. (HR Maalik dalam al-Muwatha` no. 944 dan sanadnya shahih dampai Thalhah bin Ubaidillah bin Kuraiz dan Ia seorang Tabi’in sehingga haditsnya mursal. Hadits ini di lemahkan syeikh al-Albani dalam Dha’if at-targhib wa at-Tarhib no.739. Al-Haafizh Ibnu Abdilbarr berkata, Pengertian hadits inibenar dari banyak sisi).

VIII. Wukuf Di Arafah Merupakan Rukun Haji Yang Paling Pokok.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh sekelompok orang dari Nejed tentang haji, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

الْحَجُّ عَرَفَةُ

Haji itu adalah Arafah. [HR. at-Tirmidzi no. 889, an-Nasâ’i no. 3016 dan Ibnu Mâjah no. 3015 , dihukumi shahih oleh al-Albâni]

Wukuf di Arafah merupakan tiang haji dan rukunnya yang terpenting. Barang siapa meninggalkannya, maka hajinya batal, dan barangsiapa melakukannya, maka telah sah hajinya.[Lihat al-Fathur Rabbâni karya as- Sa’ati 2/23, Tuhfatul Ahwadzi 3/54]

IX. Puasa Di Hari Arafah Memiliki Keutamaan Yang Besar.

Puasa sehari ini menghapuskan dosa dua tahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Qatâdah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ

“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim no. 1162). Puasa Arafah ini disunnahkan hanya untuk selain jamaah haji. Orang yang berhaji tidak disunnahkan puasa hari Arafah, sebab Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa Arafah ketika berhaji.

Demikianlah sebagian keutamaan hari Arafah yang seharusnya menjadikan kita bersemangat untuk merih keutamaan-keutamaan yang ada padanya.

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita untuk bisa meraihnya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.