Sejarah Singkat

Pada bulan juli tahun 2002 dimulailah pembelajaran di masjid Beku Kliwonan Masaran Sragen. Dengan bentuk pembelajaran yang berbasis masjid ini diharapkan mampu untuk mencetak penuntut ilmu yang mumpuni dalam ilmu maupun amal. Peserta didik mendapat asupan ilmu agama sesuai jadwal kajian yang masih menyisakan kesempatan untuk mencari penghidupan di luar jam pelajaran. Namun di sini lain, peserta didik tidak mempunyai ikatan kuat sebagai santri tetap karena kebanyakan mereka hanya bertahan beberapa waktu dan setelah itu meninggalkan pembelajaran dengan alasan bervariasi dan tidak kembali lagi. Pada akhirnya hanya beberapa peserta didik yang bertahan. Dengan pengalaman semacam ini, terbetik niat untuk membuat sebuah lembaga pendidikan yang benar-benar mempunyai ‘peserta didik tetap’ dan berkesinambungan. Maka pada tahun 2005 mulailah dibangun di lokasi yang sekarang ini, madrasah salafiyah wustho.

Peminat untuk madrasah ini pada awal mula terbilang cukup banyak. Walaupun sebagaian santri belum mempunyai ijazah setingkat sekolah dasar. Namun diusahakan untuk segera mengikuti ujian program paket kesetaraan tingkat sekolah dasar. Sehingga ketika resmi tahun 2006 mendapat izin kemenag untuk menyelenggarakan pesantren sekaligus madrasah salafiyah wustho setingkat SMP. Mulai saat itulah perkembangan jumlah santri sekaligus sarana fisik juga SDM mulai berkembang pesat. Peminatnya dari tahun ke tahun semakin banyak. Jumlah guru pun ditambah dan beberapa karyawan pesantren pun diangkat untuk menunjang kebutuhan harian santri. Mulai dari tukang masak hingga petugas sarana dan prasarana.

Pada awal tahun 2009 mulai dipikirkan dan diusahakan untuk memberikan wadah bagi lulusan madrasah salafiyah wustho yang tentunya tidak mungkin semuanya akan melanjutkan ke luar pesantren. Dan memang kebanyakan masih melanjutkan di pesantren hingga 6 tahun. Maka pada tahun itu juga mulai diusahakan ijin operasional untuk menyelenggarakan Madrasah Aliyah Ibnu Abbas As Salafy di lingkungan pesantren. Dan akhirnya pada bulan mei tahun 2009 turunlah izin resmi penyelenggaraan madrasah aliyah.

Bersamaan dengan berdirinya madrasah salafiyah wustho, program tahfizhul quran selalu mengiringi setiap derap langkah pesantren. Karena program ini berlangsung pada pagi dan sore hari di luar kegiatan dan jam belajar reguler pagi hari. Pada mulanya pengampu untuk hafalan qur’an hanya satu orang namun seiring dengan perkembangan jumlah santri, bertambah pula jumlah pengampu hafalan tetap, yang tentunya mereka adalah hafizh-hafizh quran yang berpengalaman.

Program I’dad Lughowi dan I’dad Du’at merupakan lanjutan dari pembelajaran masjid yang ketika berpindah lokasi ke lokasi pesantren sekarang masih mempunyai beberapa peminat. Merekapun masih mendapatkan pelajaran yang sama sebagaimana ketika di masjid dulu. Sekaligus dibina untuk membantu berbagai kegiatan madrasah salafiyah wustho dan madrasah aliyah baik di dalam kelas maupun di luar jam pelajaran kelas. Program ini ditiadakan pada tahun 2011 disebabkan kurangnya peminat. Akhirnya pesantren fokus pada madrasah salafiyah wustho dan madrasah aliyah yang dipadu dengan tahfizul qur’an sebagai program unggulannya.

4 comments

Tinggalkan Balasan