PERINTAH MENULIS TRANSAKSI HUTANG DAN AMANAH DALAM MASALAH HUTANG

Ustadz Muslim Atsari

PANGGILAN AR-ROHMAN KEPADA ORANG-ORANG YANG BERIMAN

QS. Al-Baqoroh/2: 282

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوْهُۗ وَلْيَكْتُبْ بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌۢ بِالْعَدْلِۖ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ اَنْ يَّكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللّٰهُ فَلْيَكْتُبْۚ وَلْيُمْلِلِ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللّٰهَ رَبَّهٗ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْـًٔاۗ فَاِنْ كَانَ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيْهًا اَوْ ضَعِيْفًا اَوْ لَا يَسْتَطِيْعُ اَنْ يُّمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهٗ بِالْعَدْلِۗ وَاسْتَشْهِدُوْا شَهِيْدَيْنِ مِنْ رِّجَالِكُمْۚ فَاِنْ لَّمْ يَكُوْنَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَّامْرَاَتٰنِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَۤاءِ اَنْ تَضِلَّ اِحْدٰىهُمَا فَتُذَكِّرَ اِحْدٰىهُمَا الْاُخْرٰىۗ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَۤاءُ اِذَا مَا دُعُوْا ۗ وَلَا تَسْـَٔمُوْٓا اَنْ تَكْتُبُوْهُ صَغِيْرًا اَوْ كَبِيْرًا اِلٰٓى اَجَلِهٖۗ ذٰلِكُمْ اَقْسَطُ عِنْدَ اللّٰهِ وَاَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَاَدْنٰىٓ اَلَّا تَرْتَابُوْٓا اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيْرُوْنَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَلَّا تَكْتُبُوْهَاۗ وَاَشْهِدُوْٓا اِذَا تَبَايَعْتُمْ ۖ وَلَا يُضَاۤرَّ كَاتِبٌ وَّلَا شَهِيْدٌ ەۗ وَاِنْ تَفْعَلُوْا فَاِنَّهٗ فُسُوْقٌۢ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُ ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ – ٢٨٢

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah (bertransaksi) tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah dia menulis.
Dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan/mendiktekan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya.
Dan janganlah dia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan/mendiktekan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tidak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika satu orang lupa, maka yang seorang mengingatkannya.
Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya.
Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan.
Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqoroh/2: 2: 282)

🌄 PETUNJUK-PETUNJUK AYAT:

[ 1️⃣ ] Perintah Alloh kepada orang-orang yang beriman untuk menuliskan mu’amalah (transaksi) tidak secara tunai, untuk waktu yang ditentukan, takaran atau timbangannya.
Seperti dalam jual beli, hutang piutang, sewa menyewa, dan sebagainya. Hal itu untuk menjaga hak-hak sesama mereka.

[ 2️⃣ ] Penulis harus menuliskannya dengan benar, tidak menambahi atau menguranginya.
Hal itu sebagai bentuk syukur atas nikmat keahlian menulis yang telah Allah ajarkan kepadanya.

[ 3️⃣ ] Orang yang berhutang mendiktekan hutangnya untuk ditulis, dan dia harus bertakwa kepada Allah dengan tidak mengurangi sedikitpun dari hutangnya.

[ 4️⃣ ] Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah keadaannya, atau dia sendiri tidak mampu mendiktekan, maka hendaklah walinya mendiktekan dengan jujur.

[ 5️⃣ ] Perintah mengadakan dua orang saksi lelaki untuk penulisan tersebut. Jika tidak ada dua orang lelaki, maka boleh seorang lelaki dan dua orang perempuan. Dan saksi-saksi itu disyaratkan ‘adalah (sholih; tidak fasiq).

[ 6️⃣ ] Kewajiban bersaksi bagi orang yang diminta menjadi saksi.

[ 7️⃣ ] Perintah menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya.

[ 8️⃣ ] Hikmah penulisan hutang adalah lebih menguatkan persaksian dan menghilangkan keraguan ketika terjadi perselisihan. Karena orang sering lupa dengan ingatannya.

[ 9️⃣ ] Boleh tidak menulis perdagangan yang dilakukan secara tunai/kontan.

[ 🔟 ] Perintah Alloh mengadakan persaksian ketika jual beli.
Mayoritas ulama menyatakan perintah ini adalah irsyad (bimbingan) yang tidak wajib. Namun untuk jual beli barang yang berharga lebih selamat dengan persaksian.

[ 1️⃣1️⃣ ] Penulis tidak boleh menyulitkan, seperti tidak mau menulis, atau menulis yang tidak sesuai dengan yang didiktekan.

[ 1️⃣2️⃣ ] Saksi tidak boleh menyulitkan, seperti tidak mau bersaksi, atau bersaksi tidak seperti yang dia dengar, atau menyembunyikannya.

[ 1️⃣3️⃣ ] Menyelisihi perintah atau melakukan larangan merupakan perbuatan kefasikan, yaitu keluar dari ketaatan. Dan wajib bertakwa kepada Allah dengan melakukan perintah dan meninggalkan larangan.

[ 1️⃣4️⃣ ] Beriman kepada nama Alloh Al-‘Aliim, Yang Maha Mengetahui, dan sifatNya al-‘imu, pengetahuanNya yang meliputi segala sesuatu.

[ 1️⃣5️⃣ ] Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, sehingga Allah mengajari orang-orang yang beriman perkara-perkara yang akan membawa kebaikan di dunia dan di akhirat. Maka kewajiban hamba untuk mentaati Alloh Yang Maha Mengetahui.

Inilah sedikit penjelasan satu ayat yang paling panjang di dalam Al-Qur’an ini. Semoga Alloh selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus.

Ditulis oleh Muslim Atsari,
Sragen, Bakda Ashar Jum’at, 20-Syawal-1441 H / 12-Juni-2020 M

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.