PERINTAH MAKAN YANG HALAL DAN BAIK, LARANGAN MENGIKUTI LANGKAH SETAN

Ustadz Muslim Al-Atsari

AYAT-AYAT AL-QUR’AN PANGGILAN AR-ROHMAN KEPADA INSAN

QS. Al-Baqoroh/2: 168- 169

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ – ١٦٨

اِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوْۤءِ وَالْفَحْشَاۤءِ وَاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ – ١٦٩

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.
Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. Al-Baqoroh/2: 168-169)

PETUNJUK-PETUNJUK AYAT:
1- Alloh Ta’ala menaruh rizki manusia di bumi ini, manusia diharuskan bekerja untuk mencari rizki yang halal dan meninggalkan yang haram.
2- Perintah Alloh Ta’ala kepada manusia untuk makan yang halal dan baik, yaitu yang tidak diharamkan, dan yang tidak membahayakan akal dan badan (Lihat Tafsir Ibnu Katsir).
3- Larangan Alloh Ta’ala kepada manusia untuk mengikuti langkah-langkah syaitan; karena syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. Sedangkan musuh itu berusaha untuk mencelakakan musuhnya dengan berbagai cara.
4- Perintah syaitan kepada manusia untuk berbuat jahat. Jahat di sini terjemah dari suu’ yang artinya keburukan. Yaitu sesuatu yang menyusahkan jiwa. Yang dimaksud yaitu semua jenis dosa, yang berupa meninggalkan perintah atau mengerjakan larangan. (Lihat Tafsir Aisarut Tafasir, Syaikh Al-Jazairi)
5- Perintah syaitan kepada manusia untuk berbuat keji. Keji di sini terjemah dari fahsya’ yang artinya kekejian. Yaitu dosa yang melewati batas. Seperti zina, liwath, bakhil, minum khomr, dan semacamnya. Semua fahsya’ (kekejian) adalah dosa, tetapi tidak semua dosa itu fahsya’ (kekejian). (Lihat Tafsir Aisarut Tafasir, Syaikh Al-Jazairi)
6- Perintah syaitan kepada manusia untuk berkata tentang Allah tanpa ilmu. Berbicara tentang Alloh tanpa ilmu meliputi: berbicara (tanpa ilmu) tentang hukum-hukumNya, syari’atNya, dan agamaNya. Termasuk berbicara tentang nama-namaNya dan sifat-sifatNya, yang hal ini lebih besar daripada berbicara (tanpa ilmu) tentang syari’atNya, dan agamaNya.” (Catatan kaki kitab At-Tanbihat Al-Lathifah ‘Ala Ma Ihtawat ‘alaihi Al-‘aqidah Al-Wasithiyah, hal: 34, tahqiq Syeikh Ali bin Hasan, penerbit: Dar Ibnil Qayyim)
7- Haram mengikuti perintah-perintah syaitan yang dibisikkan ke dalam hati manusia. Sebab syaitan itu hanya mengajak pengikutnya menuju neraka. (Lihat QS. An-Nas dan QS. Fathir/35: 6)

Inilah sedikit penjelasan dua ayat yang agung ini. Semoga Alloh selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus.

Ditulis oleh Muslim Atsari,
Sragen, bakda zhuhur Ahad, 24-Romadhon-1441 H / 17-Mei-2020 M

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.