MENSUCIKAN JIWA DENGAN HAJI

Artikel

┏━═━❈❖•☄️❖❈•━═━┓
Seri Mutiara Ilmu 14
┗══━❈❖•🌐❖❈•━═━┛

✍️ Haji adalah muktamar berkumpulnya kaum muslimin dari penjuru dunia yang dilakukan setiap tahun. Berkumpulnya kaum muslimin yang demikian besar dan beranekaragam bentuk, warna dan kewarganegaraan yang terorganisir dengan baik melakukan ibadah-ibadah dengan sangat teratur. Sulit umat lain mampu melakukan hal tersebut, apalagi dilakukan setiap tahunnya. Allah Ta’ala abadikan hal ini dalam firmanNya:
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). (QS al-Hajj :27-29).

✍️ Hal ini akan semakin nyata bila kita meyakini setiap ibadah memiliki tujuan mulia nan agung, demikian juga Haji memiliki tujuan mulia dan efek baik pada jiwa seorang muslim yang tidak mampu dituliskan dalam sebuah tulisan dan tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Sedangkan pengaruhnya terhadap pensucian jiwa dan pembinaannya dapat di tampakkan dengan sebagiannya. Diantaranya:

  1. Haji berisi ungkapan pelaksanaan dan penerimaan panggilan menunaikan kewajiban yang Allah sampaikan dalam firmanNya:
    {وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ الله غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ}
    Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Qs alimron: 97).
    Pelaksanaan kewajiban ini adalah tanda dari kesucian dan perbaikan jiwa seorang muslim. Apalagi bila dilihat banyaknya pengorbanan harta, waktu dan tenaga serta jiwa yang dikeluarkan untuk mewujudkan pelaksaan ibadah ini. Hal ini tampak pada pengaruh yang kedua berikut.
  2. Haji membuat seorang mukmin hidup merasakan derajat iman terkuat, karena tercegah dari berfikir maksiat sampai-sampai dirumah dan kampungnya. Demikian juga terwujudkan derajat sabar dalam ketaatan, sabar dalam meninggalkan maksiat dan sabar atas takdir Allah dan musibah serta kesulitan yang menimba seorang yang berhaji. Mereka harus menghadapi kesulitan dan kesusahan, capek, kehilangan harta, jauh dari keluarga dan para kekasihnya. Ini semua adalah latihan nyata bagi seorang muslim untuk sabar dan taat dan pengaruhnya akan tampak dalam kehidupan seorang muslim yang menunaikan kewajiban ini.
  3. Haji adalah madrasah untuk memberi dan berkurban. Seorang muslim bisa mengambil pelajaran berharga dalam memberi dan berkurban dalam ibadah haji. Lihatlah orang berhaji meninggalkan negeri, keluarga dan orang-orang tercinta? Bukanlah ia telah mengeluarkan hartanya yang banyak untuk ibadah mendekatkan diri kepada Allah? Ini semua merupakan bentuk jihad dengan harta, kemampuan dan waktu.
  4. Haji mengingatkan kematian dan hari kebangkitan. Demikian haji mengingatkan seorang muslim dengan hari perjumpaan dengan Allah di alam mahsyar, itu apabila ia telah melepas seluruh pakaiannya diganti dengan dua helai kain dan mengucapkan talbiyah serta berwukuf di arofah. Dia melihat banyak orang berkumpul dengan keanekaragamannya namun mengenakan pakaian yang sama menyerupai kain kafan. Disinilah hati seorang muslim mengingat keadaan-keadaan yang akan dihadapinya setelah kematian sehingga hal ini memotivasinya untuk bersiap-siap mencari bekal untuk menghadap Allah yang Maha Kuasa.
  5. Haji berisi pembiasaan seorang muslim menghargai dan menghormati lingkungannya baik pepohonan atau bebatuan atau yang lainnya. Sebab di haji dia dilarang merusak pepohonan dan membunuh hewan buruannya ketika sedang ihram serta tidak boleh memungut dan mengambil barang-barang temuannya. Seperti dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dalam sabda beliau:
    (إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ حَرامَهُ، فَهُوَ حَرَامٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، لا يُعَضَّدُ شَجَرُهُ، وَلا يُحْتَشُّ حَشِيشُهُ، وَلا يُرْفَعُ لُقَطَتُهُ إِلا لإِنْشَادِهَا، وَلا يُسْتَحَلُّ صَيْدُهُ)
    Sesungguhnya Allah mengharamkan tanah sucinya sehingga dia menjadi tanah suci sampai hari kiamat, tidak boleh memotong pepohonan, tidak mencabut rerumputannya dan tidak mengambil barang temuannya kecuali untuk mengumumkannya dan tidak dihalalkan hewan buruannya. (HR al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir 11/313).
  6. Dalam haji bisa mewujudkan pengertian umat islam adalah umat yang satu, sebab dalam berhaji mestinya seorang muslim merasakan bahwa dia adalah satu diantara umat islam yang satu tersebut. Walaupun mereka diluar musim haji bercerai berai namun ketika berhaji mereka tampak seperti satu umat yang bersatu padu
  7. Haji adalah jihad seperti dijelaskan Ummu Salamah yang berkata:
    قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: ((الْحَجُّ جِهَادُ كُلِّ ضَعِيفٍ))
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Haji adalah jihad semua orang yang lemah. (HR Ibnu Majah no. 2893 dan dinilai sebagai hadits hasan lighairihi oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib 2/3)
  8. Haji menghapus yang telah lalu, seperti dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dalam sabda beliau:
    ((أما علمت أن الإسلام يهدم ما كان قبله، وأن الهجرة تهدم ما كان قبلها، وأن الحج يهدم ما كان قبله))
    Tidakkah kamu mengetahui bahwa islam menghapus yang terdahulu dan hijrah menghapus yang telah lalu serta haji menghapus yang telah lalu. (HR Muslim no. 173)
  9. Balasan haji yang mabrur adalah syurga seperti dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaiihi wasallam dalam sabda beliau:
    ((الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ)
    Umroh ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa dianttara keduanya dan haji yang mabrur tidak ada balasan kecuali syurga (HR al-Bukhari 1650).
  10. Haji berisi upaya mencontoh orang terdahulu, karena orang yang berhaji ketika pergi menunaikan kewajiban haji berarti sedang mencontoh orang sebelumnya, diantaranya mencontoh Nabi Muhamad Shalallahu ‘alaihi wassalam yang berhaji dan mencontoh Nabi Ibrohim alaihissalam ketika diperintahkan untuk memanggil manusia agar berhaji dalam firmanNya:
    {وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ }
    Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS al-Hajj :27)

✍️Demikianlah beberapa pengaruh dan peran ibadah haji dalam pembinaan dan pensucian jiwa seorang muslim. Ini semua akan tampak bila seorang berusaha sekuat tenaganya untuk meraih haji yang mabrur dengan adanya perubahan pada sikap, prilaku dan budi pekertinya.

✍️Oleh karena itu ibadah haji adalah sarana pensucian jiwa dan pembinaannya untuk meraih ketakwaan kepada Allah Ta’ala yang sempurna. Mari sucikan jiwa kita dengan menunaikan ibadah haji sesuai dengan petunjuk dan contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.
Wabillahittaufiq.

Ponpes Ibnu Abbas, 19 Juni 2020

Kholid Syamhudi

Yuk salurkan infaq, sedekah dan wakaf anda ke Ponpes Ibnu Abbas As Salafy di http://donasikita.binabbas.org

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.